Bangkitkan Ekonomi Nelayan, ACT Salurkan 8 Unit Perahu

0
13
Keterangan foto : Sejumlah Nelayan penerima manfaat perahu wakaf dari Global Wakaf Aksi Cepat Tanggap melakukan uji kelayakan perahu di pantai Wani I Donggala, Jumat (22/10).

INIPALU.COM – Gempa bumi, Tsunami serta likuefaksi yang melanda Kota Palu, Kabupaten Donggala dan Kabupaten Sigi pada 28 september silam tidak hanya menelan ribuan korban jiwa namun juga berdampak pada mata pencaharian masyarakat setempat khususnya petani dan nelayan.

Seperti di Desa Wani I kecamatan tanantovea Kabupaten Donggala, meski sudah satu tahun pasca bencana sebagian nelayan setempat kini masih bekerja serabutan akibat perahu mereka rusak dihantam tsunami.

Salah seorang warga di wilayah itu, Irsan (40) mengaku bencana alam pada 28 september silam itu, tidak hanya merusak pemukiman warga yang tinggal di pesisir pantai Wani, namun juga merusak alat kerja mereka seperti perahu dan alat tangkap ikan.

“ Waktu gempa kemarin itu tidak hanya merusak rumah saya, namun juga merusak perahu dan alat tangkap nelayan termasuk perahu milik saya. Kalau dihitung-hitung kerugian saya itu kurang lebih sepuluh juta rupiah, kata Irsan ketika ditemui tim ACT belum lama ini.

Melihat kondisi itu, Yayasan Global Wakaf Aksi Cepat Tanggap (Global Wakaf ACT) bekerja sama dengan Media Republika menyalurkan bantuan delapan unit perahu wakaf beserta alat tangkap ikan. Perahu itu diperuntukan untuk enam belas kepala kelurga. Masing-masing perahu itu digunakan dua kepala keluarga.

Implementator program Global Wakaf ACT Mohammad Jakfar mengatakan penerima perahu wakaf tersebut sebelumnya telah didata lebih dulu agar penerima manfaat tersebut benar-benar tepat sasaran.

Menurut Jakfar sapaan akrabnya, para nelayan penerima manfaat itu juga akan dilakukan pendampingan yang nantinya mengawal proses pemasaran agar nelayan setempat tidak kesulitan menjual hasil tangkapan maupun memberikan penguatan-penguatan yang berkaitan dengan peningkatan ekonomi.

masing-masing kelompok nelayan itu juga akan mendonasikan dua puluh persen dari hasil penjualan yang nantinya akan digunakan untuk perbaikan perahu maupun modal usaha bagi ibu-ibu nelayan setempat untuk mengelola hasil laut.

“ hasil penjualan nelayan itu akan disisipkan dua puluh persen untuk perbaikan-perbaikan perahu yang rusak maupun memberdayakan ibu-ibu nelayan setempat. ”, ujar jakfar.

Ilham warga dusun 2 Desa Wani I mengungkapkan rasa terima kasihnya kepada Global Wakaf Aksi Cepat Tanggap yang turut membantu dan peduli terhadapa ekonomi mereka pasca tsunami meluluhlantakan rumah dan alat kerja mereka.

“ Bantuan ini sangat membantu kami khususnya nelayan di Wani I ini. Kami saat ini hanya kerja serabutan karena kami kehilangan pekerjaan. Dari hasil kerja serabutan itulah yang makan setiap harinya. Sekali lagi terima kasih ACT,” Ungkapnya.

Hingga kini ACT terus berikhtiar untuk membantu mempercepat proses pemulihan ekonomi korban bencana alam di Kota Palu, Sigi dan Donggala. Tidak hanya membantu para nelayan namun ACT juga kesulitan ekonomi

petani di Kabupaten Sigi dengan membangun sumur yang diperuntukan untuk lahan pertanian yang saat ini masih dalam proses pembangunan

Bangkitkan ekonomi nelayan, Global Wakaf ACT salurkan 8 unit perahu di Wani

Gempa bumi, Tsunami serta likuefaksi yang melanda Kota Palu, Kabupaten Donggala dan Kabupaten Sigi pada 28 september silam tidak hanya menelan ribuan korban jiwa namun juga berdampak pada mata pencaharian masyarakat setempat khususnya petani dan nelayan.

Seperti di Desa Wani I kecamatan tanantovea Kabupaten Donggala, meski sudah satu tahun pasca bencana sebagian nelayan setempat kini masih bekerja serabutan akibat perahu mereka rusak dihantam tsunami.

Salah seorang warga di wilayah itu, Irsan (40) mengaku bencana alam pada 28 september silam itu, tidak hanya merusak pemukiman warga yang tinggal di pesisir pantai Wani, namun juga merusak alat kerja mereka seperti perahu dan alat tangkap ikan.

“ waktu gempa kemarin itu tidak hanya merusak rumah saya, namun juga merusak perahu dan alat tangkap nelayan termasuk perahu milik saya. Kalau dihitung-hitung kerugian saya itu kurang lebih sepuluh juta rupiah, kata Irsan ketika ditemui tim ACT belum lama ini.

Melihat kondisi itu, Yayasan Global Wakaf Aksi Cepat Tanggap (Global Wakaf ACT) bekerja sama dengan Media Republika menyalurkan bantuan delapan unit perahu wakaf beserta alat tangkap ikan. Perahu itu diperuntukan untuk enam belas kepala kelurga. Masing-masing perahu itu digunakan dua kepala keluarga.

Implementator program Global Wakaf ACT Mohammad Jakfar mengatakan penerima perahu wakaf tersebut sebelumnya telah didata lebih dulu agar penerima manfaat tersebut benar-benar tepat sasaran.

Menurut Jakfar sapaan akrabnya, para nelayan penerima manfaat itu juga akan dilakukan pendampingan yang nantinya mengawal proses pemasaran agar nelayan setempat tidak kesulitan menjual hasil tangkapan maupun memberikan penguatan-penguatan yang berkaitan dengan peningkatan ekonomi.

masing-masing kelompok nelayan itu juga akan mendonasikan dua puluh persen dari hasil penjualan yang nantinya akan digunakan untuk perbaikan perahu maupun modal usaha bagi ibu-ibu nelayan setempat untuk mengelola hasil laut.

“ hasil penjualan nelayan itu akan disisipkan dua puluh persen untuk perbaikan-perbaikan perahu yang rusak maupun memberdayakan ibu-ibu nelayan setempat. ”, ujar jakfar.

Ilham warga dusun 2 Desa Wani I mengungkapkan rasa terima kasihnya kepada Global Wakaf Aksi Cepat Tanggap yang turut membantu dan peduli terhadapa ekonomi mereka pasca tsunami meluluhlantakan rumah dan alat kerja mereka.

“ Bantuan ini sangat membantu kami khususnya nelayan di Wani I ini. Kami saat ini hanya kerja serabutan karena kami kehilangan pekerjaan. Dari hasil kerja serabutan itulah yang makan setiap harinya. Sekali lagi terima kasih ACT,” Ungkapnya.

Hingga kini ACT terus berikhtiar untuk membantu mempercepat proses pemulihan ekonomi korban bencana alam di Kota Palu, Sigi dan Donggala. Tidak hanya membantu para nelayan namun ACT juga kesulitan ekonomi petani di Kabupaten Sigi dengan membangun sumur yang diperuntukan untuk lahan pertanian yang saat ini masih dalam proses pembangunan.(*)

LEAVE A REPLY