Lagi, Ansor Sulteng laksanakan diklat yang ke-32

INIPALU.COM – Satuan Koordinasi Cabang Banser Kabupaten Banggai menggelar Diklat Terpadu Dasar (DTD) Banser Angkatan ke-II di Pondok Pesantren Darus Salam Kecamatan Toili Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah. Selama tiga hari, Senin – Rabu (23-5/12), 82 peserta menerima sejumlah materi penguatan ke-NU-an dan keindonesiaan.

Kegiatan ini dihadiri dan dibuka oleh Ketua PP GP Ansor/ Korwil XI Faisal Attamimi, ketua PW GP Ansor Sulawesi Tengah Alamsyah Palenga, instruktur nasional banser, serta jajaran pengurus cabang GP Ansor Banggai.

Hadir sebagai instruktur kepala dalam diklat terpadu dasar ini, Ahmad Syafii selaku Instruktur Nasional Satkornas Banser. “Untuk menjamin kesatuan arah, konsep serta kualitas diklat, kami menghadirkan instruktur nasional sehingga para peserta dapat langsung dibimbing oleh satkornas”, demikian terang Gazali Akbar, ketua GP Ansor Banggai.

Kegiatan pembukaan dan jalannya diklat semakin semarak dengan antusiasme warga sekitar pondok pesantren melihat langsung bagaimana calon kader ansor digembleng. Diklat terpadu ini memadukan kurikulum calon kader ansor sekaligus kader banser dalam kesatuan kurikulum terpadu termasuk di dalam materi kelas, materi nonkelas, baik indoor maupun outdoor.

Ketua PW GP Ansor Sulawesi Tengah dalam sambutannya menyampaikan bahwa ini adalah diklat yang ke-32 dilaksanakan di wilayah khidmat Sulawesi Tengah.

“Ini adalah diklat Ansor-Banser yang ke-32 dilaksanakan dalam hampir 2 tahun terakhir, dan kami masih mempunyai rengiat 6 kali diklat sampai akhir Januari 2020. Daerah yang siap melaksanakan diklat tersebut adalah Kota Palu, Sigi, Banggai Kepulauan, Morowali Utara, Morowali dan Parigi Moutong, insya Allah sampai akhir Januari 2020”, ujar Alamsyah.

“GP Ansor akan terus melaksanakan diklat sampai seluruh pemuda muslim di Sulawesi Tengah menjadi kader Ansor. Ini merupakan bentuk komitmen dan cinta kader Ansor kepada tanah air”, lanjut Alamsyah.

Sementara Faisal Attamimi menyampaikan kepada hadirin untuk menjaga dan merawat NU, karena NU adalah benteng pertama dan terakhir aswaja dan Indonesia.

“Jaga dan rawatlah NU sebagai benteng pertama dan terakhir aswaja di Indonesia. Diklat Ansor semacam ini adalah bentuk nyata menjaga dan merawat NU. Ansor akan terus eksis karena Ansor dan NU terus memberikan manfaat bagi masyarakat”, demikian sambutan Faisal.

Bahwa NU lahir dalam semangat kebangsaan dan keislaman Indonesia sehingga citra Indonesia yang Islami dan keislaman yang indonesiawi  itulah yang diajarkan oleh NU, terlebih tradisi budaya masyarakat Sulawesi Tengah sedari dulu bercirikan Islam Aswaja An-Nahdhiyah,” ungkap Faisal. Ia mengajak segenap kader untuk konsisten dalam ber-NU, “Mari meraih ridha Allah SWT dan syafaat Nabi Muhammad SAW dengan cara menjadi kader NU yang istiqamah dan bermanfaat bagi masyarakat sebagaimana pesan Hadrattusyekh KH Hasyim Asy’ari,” tutup Faisal.

Peserta yang mengikuti DTD kali ini berasal dari berbagai kecamatan. Pendidikan ini berakhir pada rabu dinihari 25/12 dengan jumlah peserta yang dibaiat berjumlah 87 kader termasuk 3 orang perempuan sebagai kader detasemen wanita banser (Denwatser).(*)/Sharfin.

BAGIKAN

LEAVE A REPLY