B3 Lebih Terkenal Daripada Calon Kepala Daerah ?

2020 awal Kota Palu menjadi sorotan media-media baik media lokal di Palu Provinsi Sulawesi Tengah, media-media nasional, bahkan media internasional, juga media-media sosial (Medsos). Kalau 28 September 2018 silam Palu menjadi sorotan dunia karena dilanda bencana dahsyat, kali ini sorotan media adalah seekor satwa dilindungi namun berbahaya….Buaya Berkalung Ban (B3) demikian si buaya terkenal itu diberi singkatan.

B3 bukan pertama kalinya membuat “heboh” hingga meluas ke dunia internasional. Di pertengahan tahun 2018 lalu, B3 juga menjadi perbincangan warga Palu maupun warga net. Munculnya berita tentang si B3 di 2018 membuat Jawa Pos bersama Radar Sulteng mengundang khusus pencinta hewan, Panji Petualang.

Panji bersama tim hampir dua minggu berada di Palu untuk mencoba menangkap B3 agar bisa melepaskan ban yang sudah semakin melilit lehernya. Upaya Panji dan tim tidak berhasil, saat Panji beberapa kali mendekati B3 dengan peralatan jerat dan juga memasang perangkat buaya yang dipinjam dari BKSDA juga tak membuahkan hasil. B3 seperti tahu dan mencium “bau” Panji, sehingga ketika didekat B3 masuk ke dalam air dan berpindah-pindah dari muara Sungai Palu, tepian pantai sekitar Talise, jembatan Palu II Jalan I Gusti Ngurah Rai.
Kali ini sudah hampir sebulan B3 kembali “dikejar” banyak pihak.

Pascapihak BKSDA Sulteng menyatakan akan menggelar sayembara melepaskan ban yang melingkar di leher B3, pemberitaan pun menjadi ramai. Bahkan beberapa pencinta hewan dari luar negeri pun tertarik untuk bisa menyelamatkan B3 agar ban motor matik tidak lagi melilit di lehernya.

Sepekan berlalu sayembara melepaskan ban di leher B3, BKSDA kemudian menyatakan sayembara ditutup dan pihak BKSDA bersama tim dari Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) tiba di Palu untuk misi penyelamatan B3. Sudah hampir sepekan tim BKSDA dan KLH mondar-mandir mengejar B3 dari sarang B3 yang diyakini di bekas bak penampungan air di dekat jembatan II Palu, sepanjang aliran sungai Palu sampai di muara sungai Palu tapi belum berhasil.

Menariknya saat tim BKSDA dan KLH melakukan upaya menjaring, menjerat dan menombak B3 pinggiran sungai Palu, bahkan jembatan menjadi macet. Warga yang menonton memadati pinggiran sungai, tidak hanya menonton, tapi teriakan sorak menjadi seperti hiburan warga. Teriakan sorak warga yang menonton justru menurut tim BKSDA membuat B3 terusik dan memilih menjauh dan masuk ke dalam air.

“Pesona” B3 memang mewarnai pemberitaan baik media cetak, media online. Media sosial juga tidak ketinggalan ikut ramai memposting kemunculan B3.
Momen Pilkada serentak di 2020 seakan membuat calon kepala daerah yang akan merebut untuk dikenal publik seakan kalah pamor dengan sorotan media terhadap B3. Bahkan B3 sudah menjadi sorotan media-media asing. Konon kabar yang berkembang viralnya B3 di Medsos juga akan menjadi salah satu agenda penyelamatan yang akan dilakukan salah satu calon kepala daerah untuk mengundang ahli buaya untuk membantu mengeluarkan ban dari leher B3.

Hmmmm… Karena terkenalnya B3, sampai-sampai, dikabarkan salah seorang pencinta hewan asal Australia sudah berada di Palu bersama tim BKSDA juga dalam misi yang sama yakni, menyelamatkan B3 dari jeratan ban sepeda motor matik, yang konon sengaja dipasang warga saat B3 sempat ditangkap warga, ketika B3 masih belum sebesar saat ini yang mencapai 4 meter lebih panjangnya.

B3 memang memberi hiburan tersendiri bagi warga Palu dan warga net. Sejenak seakan warga Palu bisa lupa dengan trauma bencana gempa bumi, tsunami dan likuefaksi 2018 lalu. Penyintas sejenak teralihkan dengan pencairan dana Stimulan, pencairan dana jatah hidup dan hak-hak penyintas lainnya yang terus masih tertahan di kas Pemerintah Daerah.(**)

BAGIKAN

LEAVE A REPLY