Serunya Pemburu Buaya VS Pemburu Subscribe

Masih tentang buaya….Pesona Buaya Berkalung Ban (B3) atau Buaya Terjerat, Terlilit Ban (BTB), masih terus bersinar. Hampir sebulan peburuan terhadap B3 yang melibatkan beberapa pemerhati satwa, baik tim nasional, sampai tim dari luar negeri. Namun si B3 belum juga berhasil disentuh.

Dua ahli buaya asal Australia, Matthew Nicolas Wright dan Chris Wilson sudah sepekan lebih berada di Kota Palu untuk misi pembebasan ban yang melingkar di leher B3.

Sayangnya izin operasional salah seorang ahli buaya asal Australia itu, Chris Wilson diketahui berakhir pada Sabtu (15/2/2020) dan Chris harus kembali kenegerinya. Sementara rekannya Matthew Nicolas Wright masih bertahan untuk segera mungkin bisa menaklukkan B3, sebelum izinnya juga berakhir pada Selasa (18/2/2020).

Kehadiran Matthew Nicolas Wright, Chris Wilson dan B3 menjadi sangat tenar, berita-beritanya terus bermunculan, baik di media arus utama, maupun media sosial (medsos). (Facebook, aplikasi chat WhasApp, Instagram dan Youtube).

Matt, Chirs dan B3 menjadi incaran kamera wartawan, kamera netizen, apalagi kamera pada youtuber, content creator atau apalah istilah krennya saat ini.

Ketika B3 menampakan diri, baik di muara sungai Palu, maupun di jembatan Palu II (Jalan I Gusti Ngurah Rai) yang disebut-sebut sarang B3, dalam hitungan menit informasinya akan berseliwiran di medsos.

Begitupun ketika tim pemburu buaya (B3) berada di pinggiran sungai Palu, maupun di muara sungai Palu akan menjadi incaran para netizen dan wartawan.

Menariknya, B3 dan tim pemburu B3 sama-sama juga diburu oleh pendulang Subscribe (youtuber, content creator), followers (Instagram, FB dan Twitter).

Ketika B3 dan Pemburu B3 muncul di pinggiran sungai Palu atau muara sungai Palu, netizen, youtuber, wartawan akan ikut memadati kemana tokoh dalam “drama” penyelamatan B3 itu berada.

Banyak anggapan, kesulitan untuk menangkap B3 oleh tim BKSDA, KLH dan tim ahli buaya dari Australia salah satunya karena banyaknya orang yang mendekat objek ketika upaya penyelamatan B3 akan dilakukan. Menurut tim, kehadiran banyak orang dan membuat suara gaduh menjadikan B3 menjauh dari daratan, sehingga bisa mengacaukan strategi yang sudah dilakukan tim pemburu B3. Itulah serunya dan tantangannya dalam perburuan B3. Warga tidak akan bisa dibendung untuk sekadar menonton, apalagi para netizen pemburu follower, pemburu Subscribe tentu mereka-mereka akan ikut memburu momen menarik, untuk bisa berlomba-lomba mengisi konten di akun masing-masing.

Ditambah lagi netizen yang keranjingan live medsos (Facebook dan Instagram) wow, seakan-akan mereka hendak “merampas” kerja-kerja para jurnalis Tv yang juga ditugaskan kantor pusat untuk terus memantau perburuan B3. Inilah zaman dimana akses internet bisa menjadi hak semua orang dan sulit untuk membendungnya, sulit untuk saling membatasi ketika berada di ruang publik.

Menariknya, selain memang para youtuber yang begitu aktif memposting hasil perburuan video pengejaran B3, sejumlah akun youtube para jurnalis juga kejar-kejaran memposting setiap kali ada sisi menarik dari perburuan B3. Bedanya kalau akun youtube jurnalis akan melakukan tahapan saring sebelum share, agar tidak memposting hoax. Itu karena memang seyogyanya jurnalis memang akan menampilkan fakta bukan kabar keleng-kaleng. (kecuali ada yang belum paham).

Jadinya, beberapa hari terakhir ini kalau bertemu orang, pertanyaannya kalau bukan buaya yah buaya. Misalnya;
“bagaimana sudah kabarnya buaya”
“sudah ditangkap buaya”
“sudah pulang ahli buaya”
“tidak ke muara lihat buaya kamu”
“artis palu (buaya berkalung ban) belum ditangkap”
“banyak ‘buaya’ nonton orang tangkap buaya”…wkwkwkwk..
buaya, buaya, buaya

Bikin sejenak penyintas korban bencana 28 September 2018 seperti sebuah hiburan, sejenak terlupakan bahwa mereka pernah mengalami tragedi bencana terdahsyat di dunia (gempa bumi, tsunami, likuifaksi), yang juga kini masih menunggu hak-hak yang telah dijanjikan pemerintah kepada mereka.(**)

BAGIKAN

LEAVE A REPLY