ADA banyak hal yang harus disiapkan ketika seorang mahasiswa akan melaksanakan sidang skripsi. Mulai dari naskah skripsi, penguasaan materi, power point, produk, hingga persiapan mental.

Eh ternyata yang perlu komiu tahu, ada lagi yang tidak kalah penting juga calon sarjana juga akan repot-repot menyiapkan bingkisan kepada masing-masing dosen pembimbing/penguji.

Di kampus-kampus yang ada di Kota Palu, beberapa kampus ee…mungkin tidak semua kebiasaan memberi bingkisan kepada para dosen penguji adalah hal yang biasa.

Bingkisannya bermacam-macam, kalau dosennya perempuan tentu barang yang disukai perempuan, begitu juga dosen laki-laki tentu barang yang sesuai. Lain lagi dengan konsumsi, seperti makanan dan snack, bingkisan menjadi sebuah hal biasa diadakan dan sudah budaya. Bisa diartikan sebagai ucapan terima kasih telah mendampingi, hingga bisa pada saat akan maju ujian akhir/skripsi/proposal.

Memang bukan sebuah paksaan, tapi akan menjadi canggung ketika seorang mahasiswa yang akan melaksanakan ujian akhir khususnya D3, S1, tidak menyiapkan bingkisan bagi para dosen pengujinya.

Di sebuah cafe, sejumlah anak muda yang sepertinya alumni salah satu kampus asyik membahas bingkisan-bingkisan yang diberikan kepada dosen-dosen mereka saat mereka akan ujian akhir.

Ada yang menyebutkan memberikan bingkisan boks tempat makanan merk terkenal Tupperware satu set untuk dosen pengujinya yang perempuan, kemudian untuk dosen penguji yang laki-laki ada yang diberi rokok satu slop, ada yang diberi bingkisan aneka buah ada baju dan lain-lain.

Yang unik dan lucu lagi dari cerita yang lain adalah, ada mahasiswa yang memberikan ayam jantan kepada dosen pengujinya. Mungkin si mahasiswa sudah melakukan survey apa hoby dari dosen yang diberinya bingkisan ayam jago.

Cerita para anak muda itu bagi mereka mungkin hal yang bisa dan lucu, unik dan asyik untuk kembali dibahas ketika kembali kumpul-kumpul sekadar mengenang kisah mereka ketika kuliah dan pada sesi akhir menegangkan ujian skripsi diselingi pemberian bingkisan.

Bahkan pernah kata para pemuda-pemudi itu, dalam satu ujian ada banyak mahasiswa yang hari ini terjadwal akan ujian akhir dan diakhir ujian bingkisan para dosen penguji juga banyak dan penuh ketika dibawa ke mobil mereka.

Sebagai bentuk penghargaan dan hanya sekadar ucapan terima kasih mungkin menjadi hal biasa, namun apakah praktik seperti ini sesuatu yang wajar dan tak perlu adalah kritikan sampai harus mengubah kebiasaan tersebut ?

Ternyata praktik pemberian bingkisan kepada dosen penguji juga sudah menjadi budaya di beberapa kota-kota besar lainnya di Indonesia. Mungkin ini juga yang coba ditiru sejumlah mahasiswa di beberapa kampus yang ada di Kota Palu.

Yakinlah, praktik pemberian bingkisan ini awalnya tentu bukan dari dosen, sehingga kini menjadi budaya di lingkungan sejumlah kampus. Mungkin karena mahasiswa membiasakan memberi, akhirnya para dosen merasa tak bisa menolak pemberian sebagai ucapan terima kasih dari anak didiknya.

Apakah hal ini perlu diubah dan ditiadakan?
Entahlah….yang bisa menjawab tentu para petinggi-petinggi dan pengambil kebijakan sejumlah kampus yang menerapkan hal tersebut.

Nah…sebagai pembanding dikutip dari jatimtimes.com, terkait pemberian hadiah mahasiswa kepada dosennya setelah melaksanakan sidang skripsi itu, meski barangkali dimaksudkan sebagai bentuk ucapan terima kasih, bisakah dikategorikan sebagai gratifikasi?

Gratifikasi sendiri adalah pemberian dalam arti luas, meliputi pemberian tiket, barang, rabat (diskon), komisi, pinjaman tanpa bunga, tiket perjalanan, fasilitas penginapan, perjalanan wisata, pengobatan cuma-cuma dan fasilitas lainnya. Gratifikasi adalah akar dari korupsi itu sendiri. Gratifikasi dianggap suap apabila berhubungan dengan jabatan dan berlawanan dengan kewajiban atau tugasnya.

Inspektur Jenderal (Irjen) Kementerian Pendidikan Dan Kebudayaan (Kemendikbud) RI, Chatarina Muliana Girsang menegaskan, pemberian mahasiswa pada dosen dikategorikan gratifikasi.

“Prinsipnya gratifikasi karena ini adalah hubungan kasualitas, jika saya bukan dosen maka saya tidak akan mendapatkan hadiah dari mahasiswa saya. Ini adalah budaya yang memang pelan-pelan yang harus kita urai pelan-pelan,” ujarnya dalam Sosialisasi Pemahaman Gratifikasi Pegawai di Lingkungan Kemendikbud yang digelar oleh Inspektorat Jenderal Kemendikbud belum lama ini.

Okelah, begitu catatan Mangge Yojo edisi kali ini, semoga pemberian bingkisan mahasiswa kepada dosennya tidak dianggap sebagai “sogokan” agar ketika ujian akhir si mahasiswa tidak lagi dicecar pertanyaan-pertanyaan berat sehingga si mahasiswa beranggapan bingkisan bisa memuluskan ujian akhirnya.
Dan semoga hal ini tidak menjadi paksaan, sehingga para mahasiswa yang tak mampu menyiapkan bingkisan kepada para dosen pengujinya harus membuat orangtuanya harus menjual ternak, menambah utang agar anak kebanggannya bisa sarjana tanpa ada hambatan yang berarti. Tabe lee..(***)