PERTAMA tama kami mengucapkan selamat kepada para pejabat kepala daerah terpilih dalam Pilkada serentak Desember 2020 lalu yang baru saja dilantik, ada Walikota Palu dan Wakilnya juga ada para Bupati dan Wakilnya, sebentar lagi Gubernur Sulteng dan Wakilnya juga akan dilantik.

Proses kerja keras para tim sukses menghantarkan jagoannya memenangkan perheletan Pilkada tentu ada sebagian yang mengharapkan imbalan. Walaupun tidak secara tertulis, maupun lisan diucapkan pasangan ketika diusung. Kecuali ada kontrak politik yang disepakati yang tidak bocor ke publk.

Artinya toh istilah krennya biasanya disebut “Baku Mengerti Saja”.

Tak dapat dimungkiri memang balas budi atau balas jasa terhadap orang-orang yang telah menyukseskan seorang kepala daerah pada akhirnya memenangkan Pilkada juga akan mendapat perhatian khusus dari si pak wali maupun pak pati, misalnya diberikan pada posisi “empuk” dalam lingkaran kewenangan dari pejabat daerah.

Tapi, tentu ada juga pejabat yang tidak mau terlalu pusing dengan posisi posisi atau jabatan-jabatan setelah berhasil membawanya duduk di kursi kepala daerah.

Mungkin karena semasa perjalanan mulai pencalonan, kampanye dan segala tetek bengeknya, si Dianya sudah merasa sudah sangat menggelontorkan anggaran besar dan jatah-jatah ucapan terima kasih.

Dan tidak jarang masalah balas jasa dan balas budi karena sudah menganggap “berdarah-darah” memperjuangan kandidatnya diakhirnya menjadi pemicu arus balik perlawanan eks tim sukses yang kecewa karena merasa tidak mendapat perhatian atau tidak mendapat jatah sesuai ekspektasi.

Bahkan banyak kejadian karena tidak puas dan merasa diabaikan eks pendukung terjadilah perang opini di media sosial, bahkan bisa perang terbuka hingga gugat menggugat di penegak hukum melaporkan ITE, karena sudah kebablasan saling menghujat di Medsos.

Tentu sebagai kepala daerah setelah menjabat urusannya bukan lagi urusan membalas budi, membalas jasa para pendukungan, tapi ada antrean urusan rakyat, keluhan rakyat, menjalankan janji program saat kampenye dulu.

Sebagai kepala daerah yang baru apalagi sama sekali belum pernah menjabat kepala daerah atau memimpin pemerintahan banyak hal-hal baru yang ditemui. Belum lagi membehani kinerja bawahan yang perlu diubah agar bisa mengikuti ritme kebijakan dari pemimpin baru.

Ada lagi yang tidak kalah serius, yang biasa ketika setengah perjalanan terjadi batu sandungan terhadap partai yang pernah ikut berperan dalam memenangkan perjuangan saat Pilkada. Ada-ada saja masalahnya, intrik politik yang terjadi, mungkin bisa terjadi sikut-sikutan karena menganggap sudah tak lagi diperhatikan.

Apalagi kalau ada urusan bawahan yang berurusan dengan hokum karena perkara korupsi dan ikut menyeret pejabat kepala daerah, walaupun hanya sebagai saksi tentu cukup membuat stress dan mengganggu ritme kerja-kerja sebagai kepala daerah.

Banyak juga dalam perjalannya, terjadi istilah pecah kongsi, karena sudah tidak harmonisnya kepala daerah dan wakilnya bisa dipicu banyak hal, misalnya karena pemberian wewenang yang dianggap si wakil tidak adil, atau si kepala daerah menganggap si wakil sudah seakan-akan mau mengambil kewenangannya. Ada yang pada akhirnya perang dingin, dan malah ada kejadian sampai perang terbuka yang memalukan karena menjadi tontonan publik, kepala daerah dan wakilnya berseteru.

Begitulah kira-kira contoh-contoh sekelumit permasalahan yang bisa saja menghampiri para Kepala Daerah dan Wakilnya yang baru saja dilantik. Selamat datang di dunia nyata kepala daerah yang baru menjabat, banyak harapan rakyat agar mereka bisa bersandar pada pimpinannya yang tidak hanya perhatian di saat kampanye tapi sampai pada tuntas masa jabatannya.
Semoga amanah dan tidak banyak tipu-tipu rakyat, apalagi sampai korupsi.

Tabe…..**

LEAVE A REPLY