oleh

Gelombang Corona Hempaskan Sektor Pariwisata

PALU,- Gelombang demi gelombang wabah virus corona menghantam. Hampir semua sektor ekonomi ambruk. Bahkan minus. Tak terkecuali sektor kepariwisataan dan pendukungnya. Buka tutup jalur penerbangan, pelayaran bahkan jalan darat membuat anjloknya pengunjung.

Pengelola wisata alam Air Terjun Saluopa, Desa Wera, Kecamatan Pamona Puselemba merasakan hal itu. Sejak pandemi mewabah di daerah itu, air terjun Saluopa pun ditutup sementara. Tidak ada aktifitas di destinasi favorit tersebut.

Saat berkesempatan menjelajahi, benar adanya. Air terjun Saluopa hanya terdengar gemuruh air jatuh. Suara pengunjung sepi. Air terjun Saluopa memiliki 12 tingkat di tengah hutan. Eksotis. Sayang, keindahannya tidak dapat dinikmati banyak orang seperti disaat situasi normal.

Sabdi Ntaba, petugas loket masuk menuturkan, sejak pandemi dan adanya kebijakan menutup sementara lokasi wisata, sekitar delapan bulan air terjun Saluopa merana.

“Meski tutup sementara, pengunjung tetap bisa masuk apalagi mereka yang datang dari jauh,” kata Sabdi Ntaba.

Puncak padatnya kunjungan setelah lebaran Idul Fitri. Bisa mencapai 2.000-an orang perhari. Sedangkan untuk wisatawan mancanegara ramai di bulan Juni, Juli dan Agustus.

Tiket masuk untuk wisatawan lokal Rp5.000 per orang dan Rp20 ribu untuk pengunjing asing.

Selama penutupan sementara, pengunjung tidak dkenakan biaya masuk. Cukup membayar biaya parkir kendaraan.

Salah seorang pengunjung, Suhaedi asal Jakarta kagum dengan keindahan air terjun Saluopa.

“Mantap air terjunnya. Rasanya tid├ák ingin pulang,” kata Suhaedi, Minggu, 12 September 2021.

Dia mengaku begitu menikmati sejuknya udara di sekitaran air terjun. Juga tak foto-foto.

Penutupan sementara tempat wisata ini berdampak pula pada pendapatan para pelaku usaha di sekitarnya.

Ibu Emon (53), salah satu pemilik warung dan souvenir di pintu masuk air terjun Saluopa menuturkan usaha warungnya sempat tutup total selama delapan bulan sejak awal Covid mewabah di Kabupaten Poso. Gantinya, dia harus berkebun.

“Selama tutup, air terjun Saluopa jadi hutan. Hanya warga sekitar yang melibtas untuk ke kebun dan mandi-mandi,” kata Emon.

Saat situasi normal, pendapatan rata-rata saat ramai seperti pasca lebaran mencapai Rp 1 juta. Kadang juga lebih. Tergantung situasi keamanan. Namun setelah terdampak corona, Emon baru dua pekan berjualan. Pemasukan bisa Rp300 ribu perhari.

Untuk souvenir kaos air terjun Saluopa, Emon menyebut bisa jualan sampai ratusan lembar saat ramai. Tetapi di masa corona, dia berhenti berjualan souvenir.

Kondisi serupa dialami beberapa titik destinasi wisata di Kota Kolonodale, Kabupaten Morowali Utara.

Ada wisata Puncak Harmoni, air terjun Matarutung dan gugusan kepulauan Teluk Tomori.

Puncak Wisata yang dibangun bertahap selama tiga tahun menggunakan Anggaran Dana Desa Korolaki ini juga tak kalah menyedihkan.

Deretan gazebo dan kursi-kursi melompong. Sebelum pandemi, tempat selalu ramai dikunjungi wisatawan yang datang ke Morowali Utara. Pelaku usaha pun turun drastis pendapatannya. Akibatnya, pemasukan pengelola ikut anjlok.

Yongki Lapasila, Kepala Desa Korolaki sangat berharap pandemi berlalu. Dia bersama aparat desa punya harapan besar ke depan untuk terus mengembangkan lokasi wisata yang berlokasi di jalur masuk Kota Kolonodale itu.

“Kita sudah persiapkan untuk membangun kolam renang dan penginapan,” kata Yongki.

Desa Korolaki juga punya air terjun. Namanya air terjun Matarutung. Namun lokasi wisata ini dikelola Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Kabupaten Morowali Utara.

Titik kunjungan yang tak kalah menariknya adalah gugusan pulau Teluk Tomori. Di sana ada satu pulau bernama Pulau Bajo. Tapi lebih dikenal dengan sebutan Pulau Teletubies. Sebutan itu melekat karena pulau yank begitu besar itu dipenuhi ilalang. Sehingga dari kejauhan terlihat begitu hijau.

Untuk mengunjungi pulau ini tidaklah susah. Cukup naik perahu dari dermaga penyeberangan Kolonodale, wekitar 10 menit sudah tiba. Pulau ini sudah dilengkapi dengan dermaga kayu, titian dan tangga beton hingga ke puncak. Di puncak, beberapa titik beristirahat sekaligus sebagai spot berpose dan menikmati pemandangan laut dan pulau-pulau di sekitarnya juga tersedia.

Namun setelah pandemi Covid-19 mewabah, tujuan wisata ini menjadi sepi.

Bupati Morowali Utara Delis Julkarson Hehi mengatakan, pemerintah kabupaten dalan waktu dekat ini akan meluncurkan desain besar (grand design) kepariwisataan di Teluk Tomori melalu APBD.

Delis mengaku akan menggunakan tenaga ahli arsitek yang selama ini merancang Ubud (Bali) dan Lombok (Nusa Tenggara Barat).

Melesunya sektor pariwisata direspons Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Sulawesi Tengah, Fery Taula.

Fery Taula mengatakan ada tiga langkah percepatan pemulihan sektor pariwisata di daerah ini akibat terdampak pandemi covid-19.

Pertama; pemulihan masyarakat dengan membangun komunikasi dan indikator pandemi.

Kedua, pemulihan sosial dan ekonomi dengan memperhatikan kelompok masyarakat yang rentan, membantu UMKM dan membangun kesadaran bahwa pariwisata adalah kegiatan yang dapat membantu masyarakat.

Ketiga, pemulihan lingkungan dengan tetap memelihara atau mengkonservasi lingkungan untuk mendukung kegiatan pariwisata. Penting untuk mengembangkan pariwisata berbasis alam.

Dia juga mengingatkan, penurunan level PPKM di Sulteng diharapkan tidak direspon dengan euforia oleh pemerintah maupun masyarakat.

“Kami berharap pelaku usaha pariwisata tetap memantau dan mematuhi peraturan-peraturan pemerintah terkait prokes dll,” kata Fery.

Fery juga sangat berharap pemerintah tetap berkoordinasi erat dengan seluruh stakeholder kepariwisataan termasuk GIPI & PHRI, khususnya dalam menyikapi kondisi penanggulangan pandemi yang semakin membaik.

Kepada masyarakat yang bepergian atau berwisata diajak untuk menerapkan moto, Jagalah Kesehatan, Bepergian dengan Tanggung Jawab.

Tingkat hunian (month to date: 1-20 September 2021 mencapai 40-48% atau terjadi peningkatan sekitar 80%.(*)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *