Tangani Covid, Waspada Pengalaman Lama Tak Terulang

  • Bagikan

PADA pandemi ini, semuanya tampak babak belur. Para perawat baik Usaha kecil yang kepayahan karena tenaga yang terus berkurang – saban hari selalu ada yang menarik diri dari garis depan perang melawan virus SARS Cov-2. Mereka ikut terpapar.  Masyarakat umum dengan literasi soal virus yang  minim, terus membanjiri rumah-rumah sakit rujukan Covid-19. Di luar sana banyak yang berani melawan kebijakan PPKM berjilid-jilid – karena berdampak pada ekonomi keluarganya. Nyaris semua orang babak belur. Namun kita babak belur pada kadar yang berbeda.

Setidaknya, ini terlihat dari pengalaman selama dua hari di unit IGD, dua hari di ruang isolasi Covid, lima hari di Paviliun Merak serta sisanya di balik beton isolasi – di Asrama Haji, Jalan WR Supratman – Palu Barat.  Perawat di garis depan yang terus terkuras tenaganya dan belasan lainnya mundur karena terpapar virus – tak lagi sebanding dengan aliran pasien yang terus berdatangan dari segala arah. Sesiap-siapnya recources dan otoritas kesehatan akhirnya jebol juga. Bed Occupancy Rate (BOR)  tak lagi cukup lagi. Sebagiannya harus di tenda dan teras IGD. Walau di teras mereka masih diupayakan mendapat tempat tidur plus kasur bahkan seprei dan bantalnya.

Namun cadangan oksigen yang menipis di rumah sakit, membuat perjuangan hidup mati menjadi tak terelakkan. Ketiadaan oksigen, membuat kematian seperti sudah sangat dekat. Doa-doa terus dirapalkan. Doa yang tak hanya berharap soal memohon kesembuhan. Tiap di doa itu, terselip pula harapan agar tabung oksigen ada secepatnya. Ya secepatnya.  Oksigen menjadi begitu krusial. Udara yang bisa dihirup dengan bebas, bagi penderita Covid telah menjadi siksaan yang memperhadapkannya pada dua pilihan.  Hidup dan mati.

Perjuangan berjibaku mendapatkan mendapatkan tabung oksigen itu, setidaknya bisa diikuti dari drama enam babak sebuah keluarga sederhana di Jalan Banteng – Palu Selatan. Sebuah perjuangan mengharu biru dari empat anak-anak dan menantu, yang berjuang agar orang tua mereka yang berusia 64 tahun, meraih kembali kehidupannya.  Saat peluang hidup sang ayah tinggal di ujung harapan. Saat harapan hidup tinggal terdengar lirih dalam alunan doa-doa yang keluar dari jiwa-jiwa yang pasrah, terus meriung mengiringi hari-hari yang tak pasti itu.

Dari pengalaman tersebut Gubernur Sulawesi Tengah H. Rusdy Mastura terus mengiatkan untuk tetap waspada dengan mematuhi Protokol Kesehatan Prokes. Hal ini ditegaskannya karena memperhatikan laporan Covid -19 melalui Pusdatina selalu tidak stabil, kadang naik dan turun. Selain itu kata dia, memperhatikan himbauan Satgas Covid -19 Pemerintah Pusat bahwa Gelombang III penularan Covid dengan Varian Covid -19 yang baru.

“Jangan Lalai dan jangan sampai kendor untuk mematuhi Protokol Kesehatan, karena Covid 19 penularannya sangat cepat, sehingga harus terus diwaspadai oleh seluruh masyarakat, kita harus bersatu untuk melawan Covid -19 dengan patuh terhadap Prokes,” tegas.

Sementara itu, mengenai vaksin disulteng, Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Tengah melaporkan vaksinasi corona di Sulteng baru mencapai 44,8 persen dari sasaran vaksinasi yaitu sebanyak sebanyak 2.135.907 jiwa penduduk Sulawesi Tengah.

“Semua kabupaten jika di rata-ratakan, jadi untuk Sulawesi Tengah sasaran vaksinasi kepada masyarakat sudah mencapai 44,8 persen,” kata Kepala Dinas Kesehatan Sulawesi Tengah, dr Komang Adi Sujendra.

Ia mengungkapkan, target dari pemerintah di akhir tahun harus mencapai 70 persen terhadap keseluruhan jumlah penduduk di Sulawesi Tengah.

Ia juga mengaku target tersebut terbilang berat. Namun, pihaknya akan berupaya semaksimal mungkin memenuhi target vaksinasi di November 2021 mencapai angka 60 persen.(*)

  • Bagikan