Jeffry Gunawan: Bangga Menjadi Muslim

0
27 views
Pada dasarnya, setiap orang berhak menentukan pilihan hidupnya sendiri. Hal ini termasuk bebas memeluk agama apapun yang ia yakini benar. Sepertihalnya Jeffry Gunawan yang memilih untuk pindah ke agama Islam dan kini menjadi tokoh central yang banyak membantu mualaf di Sulawesi Tengah (Sulteng).

BANGGA MENJADI MUSLIM, Jumat, (22/4/2022), di Sekretariat Dewan Masjid Indonesia (DMI) Sulteng, di Jalan Balaikota Timur, Kelurahan Tanamodindi, Kecamatan Palu Timur, Kota Palu, sekiranya pukul 16.00 WITA.

Jeffry Gunawan yang menjadi narasumber podcast DMI Sulteng membeberkan kisah perjalanan spiritual yang ia alami, dalam upaya memeluk agama islam.

Meski terlahir dalam keluarga yang cukup berada di Kota Surabaya, namun kekosongan hati yang dirasakan Jeffry Gunawan kerapa menjadi trigger bagi dirinya untuk mencari ketenangan hati.

Dimana pada akhirnya, di 2013 Jeffry Gunawan, memutuskan untuk hijrah dengan memeluk agama islam setelah sempat jatuh bangun dalam proses perjalanannya.

“Prosesnya cukup menguras air mata, karena setelah lulus sekolah 2010, lalu. Meski saya terpenuhi segala kebutuhannya, namun kekosongan hati yang saya rasakan kian memuncak hingga akhirnya. Saya sempat mencoba untuk bekerja sebagai kuli bangunan untuk mencari kepuasan dari kekosongan hati saya, dengan hijrah dari Bali, Ke Lombok,” papar Jeffry Gunawan.

“Namun hal itu tak menjawab apa yang saya rasakan, sehingga saya kembali hijrah dari Lombok ke Labuan Bajo dan pada akhirnya di 2013 saya memutuskan untuk menyempurnakan agama saya dengan memeluk islam,” lanjutnya.

Dimana dijelaskan Jeffry Gunawan, kekosongan hati yang ia rasakan sudah berlangsung sejak ia duduk di Sekolah Menengah Pertama (SMP), dan berusaha mencari jawabannya namun dari sumber-sumber yang ia temui tak mampu memenuhi apa yang ia rasakan.

Walaupun saat meminta izin kepada kedua orang tuanya sempat mengalami penolakan dari ayahnya karena memang Jeffry Gunawan tumbuh dan besar dalam keluarga non muslim yang cukup fanatic.

“Jadi sebelum pindah saya sempat menghubungi orang tua, namun karena memang pola didik ayah saya dulu cukup keras sehingga beliau sempat marah. Namun ibu saya mendukung meski awalnya juga sempat terdiam, sebelum memberikan saya kebebasan,” terangnya.

Bahkan setelah memeluk Islam, selama 5 tahun diutarakan Jeffry Gunawan, dirinya belum berani untuk pulang ke rumah kedua orangtuanya bertemu secara langsung.

“Setelah masuk islam, saya ada sekitar 5 tahun baru berani pulang ke Surabaya. Itupun ketidak beranian saya bukan karena takut disakiti atau lain sebagainya. Melaikan untuk tetap menjaga aqidah saya,” tegasnya.

Selain itu Jeffry Gunawan juga bercerita, walaupun dalam proses menuju islam dirinya juga penuh perjuangan. Namun untuk menjadi muslim secara utuh diakuinya memerlukan waktu hingga 4 tahun.

Pasalnya setelah mengucapkan dua kalimat syahadat di 2013, dirinya yang tak memperoleh bimbingan secara khusus menjadi seorang muslim. Harus berusaha sendiri, sehingga untuk melaksanakan solat dirinya memerlukan waktu hingga 4 tahun untuk prosesnya.

“Setelah saya menjadi muslim, itu tak langsung berjalan dengan mulus. Karena memang tak ada yang membantu saya, sehingga untuk memahami solat saja saya butuh waktu hingga 4 tahun,” ucap Jeffry Gunawan.

“Dan pada akhirnya setelah saya menjadi muslim secara utuh, secara otodidak akhirnya saya merasakan apa yang saya cari selama ini untuk mengisi kekosongan hati saya dulu,” sambungnya.

Lanjut Jeffry Gunawan, berlandaskan pengalaman yang dijalaninya, akhirnya ia memilih untuk mendedikasikan hidupnya untuk membantu mualaf lainnya menuju proses menjadi muslim seutuhnya dengan bergabung dalam Mualaf Center Indonesia. Dengan memberikan bimbingan kepada saudara sesama mualaf.

“Pengalaman sayalah, yang menjadikan landasan saya untuk mendedikasikan hidup untuk membantu sesama. Karena saya tidak menginginkan saudara saya lainnya yang memutuskan untuk masuk islam, namun tak mampu menjalani sebagaimana mestinya umat muslim,” tutur Jeffry Gunawan.

“Dan tak lupa saya selalu menanamkan kepada saudara saya, untuk selalu merasa bangga menjadi seorang muslim. Karena menjadi soaran muslim merupan anugrah Rahmatan lil ‘Alamin,” tutupnya.

Untuk diketahui MCI sulteng sendiri saat ini, focus dalam upaya pendampingan umat yang ingin masuk dalam islam. Dimana pihak dari MCI tak hanya membantu untuk proses masuk dalam islam namun juga ikut melakukan pembinaan kepada mualaf yang ada di Sulteng dan hingga saat ini tercata sudah ada sekitar 200 lebih mualaf yang tersebar di Sulteng.(ara/*)

LEAVE A REPLY