PALU,β Gejolak harga beras di Sulawesi Tengah menjadi perhatian serius Wakil Gubernur dr. Reny A. Lamadjido, Sp.PK., M.Kes. Pasalnya, beras menjadi salah satu pemicu utama inflasi daerah dan mengalami fluktuasi signifikan sejak Mei lalu, selain komoditas lain seperti cabai, tomat, dan ikan.

βSaya tidak pernah tawar-menawar kalau inflasi, karena dampaknya langsung kepada rakyat,β tegas Wagub saat memimpin pertemuan di Aula Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura (TPH) Provinsi Sulteng, Kamis sore (7/8).
Menurut Wagub Reny, penyebab inflasi beras kali ini salah satunya adalah fenomena βmigrasiβ beras dari Sulteng ke provinsi tetangga, seperti Gorontalo dan Sulawesi Utara, yang menawarkan harga lebih kompetitif bagi produsen. Kondisi ini dinilainya ironis karena terjadi di tengah musim panen, sehingga daerah lumbung beras justru kesulitan memenuhi kebutuhan lokalnya.
Ia menekankan perlunya penertiban fenomena tersebut melalui sinergi antara forkopimda dan perangkat daerah, khususnya dalam hal pengendalian dan pengawasan.

βKalau tidak bisa kita tertibkan, kasihan masyarakat kita yang mau beli beras,β ujarnya, seraya mengingatkan agar kebutuhan beras di dalam daerah diprioritaskan karena vital bagi masyarakat.
Wagub juga menginstruksikan percepatan distribusi serta penambahan pasar murah, agar masyarakat tetap mudah memperoleh kebutuhan pokok. Ia turut meminta Perum Bulog mempercepat penyaluran beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP), terutama untuk pasokan pasar murah.
βTolong SPHP cepat didistribusikan,β pintanya, sebagai langkah menormalkan harga beras di pasar lokal.
Sementara itu, perwakilan Bank Indonesia (BI) Sulteng yang hadir dalam pertemuan menyarankan perlunya keberadaan offtaker atau pembeli yang mampu menyerap hasil produksi beras petani lokal dengan harga kompetitif. Hal ini dinilai penting agar beras Sulteng tidak terserap dalam jumlah besar oleh daerah lain, seperti yang terjadi saat ini. (*)
Tidak ada komentar