Kota Palu

Mamboro  Dicanangkan Jadi Kampung Adaptif Iklim

91
×

Mamboro  Dicanangkan Jadi Kampung Adaptif Iklim

Sebarkan artikel ini

PALU– Wakil Wali Kota Palu, dr. Reny A. Lamadjido,  menghadiri kegiatan Pemaparan Hasil Perencanaan Partisipatif Yayasan Arkom Indonesia,Minggu, (18/2/2024).

Kegiatan yang berlangsung di Hunian Tetap (Huntap) Relokasi Mandiri, Kelurahan Mamboro ini, dalam rangka inisiasi workshop perencanaan kawasan kampung adaptif iklim di dua wilayah.

Kedua wilayah tersebut yakni wilayah RT 01 RW 01 Kelurahan Mamboro Barat dan wilayah RT 04 RW 01 Kelurahan Mamboro.

Dalam sambutannya, Wakil Wali Kota Reny mengapresiasi masyarakat kedua wilayah, yang tetap semangat mengikuti kegiatan meskipun cuacanya  panas.

“Saya sangat mengapresiasi kepada masyarakat yang ada di Kelurahan Mamboro dan Mamboro Barat yang luar biasa. Meskipun panas, masyarakat tetap semangat mengikuti kegiatan ini,” ungkap wakil wali kota.

Sebagaimana diketahui, Kota Palu merupakan salah satu kota yang dipilih dalam penerapan kerja-kerja Yayasan Arkom Indonesia.

Proses kerja ini dilakukan mulai dari pascabencana Gempa, Tsunami, dan Likuefaksi tahun 2018 silam hingga saat ini.

Dalam hal tersebut, Yayasan Arkom Indonesia fokus melakukan pendampingan di wilayah pesisir yakni Kelurahan Mamboro dan Kelurahan Mamboro Barat.

Pemilihan lokasi ini, berdasarkan hasil survei dan melihat aspek, seperti sosial, lingkungan, bahkan bagaimana penanganan bencananya.

Pada periode 2018 – 2021, Yayasan Arkom Indonesia bersama masyarakat, berhasil mengaplikasikan konsep relokasi mandiri kelompok di wilayah Mamboro.

Sebanyak 39 unit rumah berhasil dibangun bersama masyarakat.

Setelah membantu masyarakat yang saat ini telah menetap di Huntap melewati fase rehabilitasi dan rekonstruksi, maka fokus Yayasan Arkom Indonesia beralih kepada membantu masyarakat setempat, menata kembali wilayah pesisir yang sebelum bencana menjadi tempat bermukim.

Yayasan Arkom Indonesia menganalisa bahwa, kompleksitas wilayah Mamboro pesisir saat ini, perlu mendapatkan perhatian serius dalam hal perencanaan wilayah.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan, seperti identitas kultural, permukiman sementara yang belum tertata rapi, aktivitas perekonomian yang punya ciri khas tersendiri (penjemuran ikan), serta tingkat kerawanan bencana yang tinggi.

Dampak krisis iklim juga, akan memperparah kondisi sekitar pesisir. Proses penataan kawasan yang akan dilakukan, menjadi tahap awal dalam membuat sebuah kampung percontohan dengan model berbasis mitigasi terhadap bencana.

Demi mewujudkan visi kampung adaptif terhadap iklim, maka Yayasan Arkom Indonesia mengajak berbagai pihak untuk berkolaborasi dalam setiap proses yang akan dilakukan bersama masyarakat.

Dalam hal ini, Wakil Wali Kota Reny berkomitmen, Pemerintah Kota Palu melalui dinas terkait, akan mencatat semua yang menjadi usulan masyarakat.

“InsyaAllah nanti sekretaris Dinas PU akan mencatat. Kita pelan-pelan, jadi _posabara sakide_ (bersabar sedikit, red) InsyaAllah pelan-pelan jalan kita benahi,” ungkap wakil wali kota.

Wakil wali kota mengusulkan kepada masyarakat setempat, program penanaman 1.000 pohon cabai. Sehingga, apabila ada lahan kosong, boleh membentuk kelompok tani nanti diberikan bibit oleh Pemerintah Kota Palu.

IMG-20240313-WA0017

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *